![]() |
| Bongkar Muat Hingga Subuh, Ruko di Top 100 Tembesi Disorot Terkait Dugaan Jalur Pengiriman Ilegalnya. (Foto: Kanalbatam) |
BATAM (KB) - Di balik riuh kawasan Top 100 Tembesi yang dikenal sebagai pusat aktivitas logistik dan pergudangan, satu ruko tanpa identitas justru mencuri perhatian.
Tidak ada plang perusahaan, tidak ada logo, hanya pintu besi tertutup rapat.
Namun sejak tengah malam hingga jelang subuh, denyut aktivitas di dalamnya justru paling kencang.
Pantauan di lapangan mengungkap pola yang berulang, begitu Kota Batam mulai sepi, ruko anonim itu berubah menjadi “jantung” bongkar muat paket skala besar.
Armada ekspedisi keluar-masuk tanpa henti. Yang mencurigakan, semua dilakukan pada jam-jam rawan pantauan yakni, pukul 24.00 WIB sampai 04.00 WIB.
Mobil boks putih bernopol BP 817 EF dan truk kuning BP 841 BY adalah dua kendaraan yang paling sering terekam kamera.
Muatan di bagian belakang ditutup rapat dengan terpal hitam, seolah sengaja menyembunyikan isi dari pandangan publik maupun petugas.
Sumber internal yang enggan disebut namanya menyebut ruko itu bukan gudang resmi.
“Ini titik transit ilegal. Paket dari berbagai ekspedisi kecil dikumpulkan di sini, lalu diseberangkan malam-malam lewat jalur tikus ke Riau daratan dan Tanjungpinang tanpa manifes,” ujarnya, Senin 15/6/2026.
Setelah di packing di ruko Tembesi, paket-paket itu dibawa truk menuju pesisir Sembulang, tepatnya kawasan Pelabuhan Dapur 6.
Lokasi ini jauh dari pos Bea Cukai dan termasuk jalur tidak resmi.
Di titik inilah speedboat berinisial “LF” sudah siaga, menunggu untuk bertolak ke Selat Riau membawa ribuan paket tanpa dokumen resmi.
Modus ini diduga sengaja dipilih untuk memangkas biaya dan menghindari pemeriksaan.
Akibatnya, negara berpotensi kehilangan pajak, sementara keamanan distribusi barang tidak terjamin.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Bea Cukai Batam belum memberikan konfirmasi resmi terkait temuan di ruko Tembesi tersebut.(*)
Tidak ada plang perusahaan, tidak ada logo, hanya pintu besi tertutup rapat.
Namun sejak tengah malam hingga jelang subuh, denyut aktivitas di dalamnya justru paling kencang.
Pantauan di lapangan mengungkap pola yang berulang, begitu Kota Batam mulai sepi, ruko anonim itu berubah menjadi “jantung” bongkar muat paket skala besar.
Armada ekspedisi keluar-masuk tanpa henti. Yang mencurigakan, semua dilakukan pada jam-jam rawan pantauan yakni, pukul 24.00 WIB sampai 04.00 WIB.
Mobil boks putih bernopol BP 817 EF dan truk kuning BP 841 BY adalah dua kendaraan yang paling sering terekam kamera.
Muatan di bagian belakang ditutup rapat dengan terpal hitam, seolah sengaja menyembunyikan isi dari pandangan publik maupun petugas.
Sumber internal yang enggan disebut namanya menyebut ruko itu bukan gudang resmi.
“Ini titik transit ilegal. Paket dari berbagai ekspedisi kecil dikumpulkan di sini, lalu diseberangkan malam-malam lewat jalur tikus ke Riau daratan dan Tanjungpinang tanpa manifes,” ujarnya, Senin 15/6/2026.
Setelah di packing di ruko Tembesi, paket-paket itu dibawa truk menuju pesisir Sembulang, tepatnya kawasan Pelabuhan Dapur 6.
Lokasi ini jauh dari pos Bea Cukai dan termasuk jalur tidak resmi.
Di titik inilah speedboat berinisial “LF” sudah siaga, menunggu untuk bertolak ke Selat Riau membawa ribuan paket tanpa dokumen resmi.
Modus ini diduga sengaja dipilih untuk memangkas biaya dan menghindari pemeriksaan.
Akibatnya, negara berpotensi kehilangan pajak, sementara keamanan distribusi barang tidak terjamin.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Bea Cukai Batam belum memberikan konfirmasi resmi terkait temuan di ruko Tembesi tersebut.(*)

